Wednesday, September 10, 2008

Batin Agama: Sisi Lain Yang Terlupakan


Key rafteh-i ze del keh tamanna konam tu ra Key budeh-i nahofteh keh payda konam tu ra
Bilakah pernah Engkau tinggalkan hati hingga kuharapkan Dikau Bilakah pernah adaMu tersembunyi hingga harusku temukan Dikau

Ghaybat na kardeh-i keh shavam thalab huzur Panhan na gashteh-i keh huvaida konam tu ra

Tiada menghilang Engkau hingga kucari Dikau Tiada terbenam Engkau hingga kutampakkan Dikau

Ba shad hezar jelveh borun amadi-o man Ba shad hezar dideh tamasha konam tu ra

Dengan selaksa citra terejawantahlah Dikau Dengan selaksa pirsa kupandanglah Dikau Bushtami

(Mistikus Muslim dari Persia)

Dengan setting masa sekitar 13 abad yang lalu, berlatarkan gurun pasir dan padang tandus, seorang musyafir tengah menempuh jarak ribuan kilometer dari Marv (sebuah kota kuno di barat daya Turkmenistan) menuju Madinah.

Sedemikian teruk dan jauhnya perjalanan itu, hingga tapak kaki sang musafir pun dipenuhi oleh kerak luka dan darah. Saat tiba di Madinah, segera Ia menemui Imam Baqir as, cicit Rasulullah saww yang amat dikenal sebagai seorang cendekia yang begitu arif di masanya.

Raut lusuh dan kaki penuh luka itu seketika dimengerti oleh Imam. Sehingga dengan tangannya sendiri, beliau bersihkan luka sang tamu itu dengan penuh pengasihan. “Wahai Imam para kaum Mukmin, adakah Engkau tahu bahwa jauhnya perjalanan yang telah kutempuh sekedar untuk mendapatkan jawaban dari soalan syar’i yang tengah melilitku dan hanya berbekal cinta aku korbankan segalanya demi untuk menemuimu?” Ungkap musafir itu dengan sepenuh rindunya.

Sementara Imam Baqir as, seraya tersenyum dan diiringi nada tanya berkata: “Bukankah agama kecuali cinta?”.

Kira-kira demikianlah kisah itu dinukilkan. “Bukankah agama kecuali cinta?”.

Buat saya, tutur irfani ini bukan sekedar ujaran perasaan sang Imam untuk membungakan hati tamunya. Tapi merupakan penegasan akan esensi terdalam hakekat agama per-se. Sebentuk rumusan esoteris yang melebur agama secara dzati dengan cinta, testimoni purna yang membalut citarasa humanis dengan derajad keilahian mahabbah. Imam Baqir as tidak hanya mengungkapkan rasa kasih sayangnya dengan mengobati luka sang tamu, namun laku penuh kasihnya itu, Beliau tampakkan sebagai jelmaan agama yang tengah berbalut dengan keluhuran cinta.

Pada agama cinta kumenghadap,
kemanapun karavannya pergi cinta adalah agama dan imanku
(Ibnu Arabi)

Ungkapan sang imam layak untuk mewakili agama dalam menyingkap sisi batinnya.

Kandungan teks-teks suci sebagai jelmaan konkret hakekat agama ternyata tidak hanya menghimpun seperangkat hukum syariat, tapi justru lebih banyak memuat proposisi makrifat, pesan-pesan moral, dan isyarat-isyarat esoteris yang begitu pekat bernuansakan ide-ide sufistik.

Teks-teks wahyu sedemikian luhurnya, sehingga mampu menyuguhkan wajah lain Islam yang lebih universal dan penuh damai.

“Tuhan adalah cahaya langit dan bumi”(Nur:35) “Dia bersama kalian, di manapun kalian berada” (Hadid:4) “Sesungguhnya Tuhanku begitu dekat dan maha penerima” (Hud:21) “katakanlah: jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu”(Ali-Imran:31).


“Ilahi! Jika aku menyambahMu hanya karena rasa takutku akan neraka, maka bakarlah aku dalam neraka! Dan jika karena mengharap surga aku menyembahmu, maka haramkan surgaMu untukku, dan jika karenaMu, aku menyembahMu, maka biarkan wajah indahMu terpirsa untukku” (Rabiah Adawiyah)Ketika Pecinta telah temukan jalan cinta Neraka dan surgapun tak kan lagi diingat (Jami).

Manusia dan Agama

Manusia bukan hanya bermatrakan materi, namun juga berdimensikan ruhani. Malahan, justru pada dimensi ruhani itulah, agama bisa menemukan relevansinya dengan wujud manusia. Mengingat, dari kedalaman diri manusia senantiasa terdengar teriakan kerinduan pada Wujud Mutlak, pada kesempurnaan sejati. Sebentuk hasrat yang begitu mendambakan untuk menggapai sesuatu yang ghaib di luar keterbatasan jasadanya. Dan niscaya, hanya agama sajalah yang bisa mengobati kerinduan jiwa semacam itu.

Dengarlah rintih serunai bambu
Mengadukan perpisahannya
Kerna terasing dari rumpun bambunya dulu
Sangsai nadaku lara-keluhkan manusia
demi keterceraian itu ‘kan kucabik-cabik sanubarinya
Hingga kubentangkan betapa lukanya rindu
Siapapun yang jauh dari asalnya
Pasti ‘kan kembali mencari masa pertemuan
(Jalaluddin Rumi)

Dimensi ruhani ini, selain dilengkapi dengan daya rasional (akal), dilengkapi pula dengan kekuatan kalbu (Qalb). Jika akal sebagai fakultas intelegensia, biasanya hanya puas dengan terbuktikannya dalil-dalil epistemik secara argumentatif. Namun, tidak demikian dengan kalbu. Kalbu senantiasa menuntut sesuatu hingga diluar batas-batas jangkauan wujud manusia.

Karenanya ia tak hanya cukup bangga dengan terurainya sebuah konsepsi ataupun tertegasnya suatu proposisi. Kalbu hanya akan merasa tenang ketika sesuatu yang dikehendakinya telah benar-benar hadir dalam wujudnya. Sesuatu itu mesti dapat dialami secara hudhuri (intuitif) dalam kesadaran eksistensial wujud manusia. Pasalnya, kalbu seorang mukmin senantiasa berhasrat untuk merentangkan bentang eksistensinya hingga menggapai Wujud mutlak (liqaillah).


Dengan begitu, andaikan sesuatu tersebut berupa makrifat (pengetahuan/’ilm), maka adanya sesuatu sebagai yang diketahui (ma’lum) akan menyatu secara manunggal dengan kalbu (‘alim) tanpa memerlukan adannya perantara.


Langit dan bumi tak mampu mengandungiKu, namun kalbu hambaku yang
mukmin mampu mengandungiKu” (hadits qudsi)

Iman dan Pengalaman Tauhidi

Dalam konteks keberagamaan yang lebih tersentuh, makrifat hudhuri tersebut biasa terungkapkan dalam pengalaman religius. Lewat pengalaman semacam inilah seorang mukmin baru benar-benar bisa merasakan bagaimana hakekat iman itu bisa tersingkap secara personal dan langsung dalam keutuhan wujud dirinya yang satu.

Namun, bukan berarti iman mesti dipahami sebagai upaya pelucutan rasionalitas dari pelataran kalbu. Hakekat iman sejatinya bukanlah sekedar meyakini sesuatu dengan bertaruhkan nasib atau keberuntungan, iman adalah penyerahan diri secara mutlak bersandarkan kekuatan makrifat yang telah berpilin dengan hangatnya cinta.

Makrifat yang dikehendaki oleh iman adalah ragam pengetahuan yang melampaui batas-batas nalar. Dan ini bukan berarti hendak menampik akal dari ranah iman. Tapi, justru karena akal tak lagi mampu melangkah pada peringkat yang hanya bisa dilalui oleh cinta. Itu sebabnya, makrifat yang dibutuhkan adalah makrifat yang tak berperantarakan akal. Makrifat itu hadir secara hudhuri, dan menyatu dengan kalbu sang mukmin.


Pada peringkatnya yang puncak, pengalaman itu tidak hanya menghadirkan kesadaran ilahi, tapi telah meleburkan keberadaan hamba (fana) dengan wujud Tuhannya, sehingga di sinilah kesempurnaan eksistensial manusia itu bisa diraih, dan dapat beranjak sampai pada peringkat insan kamil. Itu berarti, antara agama dan manusia harus mampu menubuhkan hubungan psikologis yang intim.

Keberadaan Tuhan sebagai tujuan puncak agama, semestinya tidak melulu dihayati pada hubungan aku-Dia, tapi harus dicerap sebagai relasi aku-Kau yang lebih unik, tanpa-perantara, terhadirkan secara manunggal, dan hanya bersenyawakan cinta.

Ke mana pun kaki di tapakkan, Di sanalah welasNya ditemu Ke mana pun
kepala dirundukkan, Di sanalah sejadah keindahanNya
(Imam Khomeyni)

Lantaran terlaluku membayangkan Kau Sekujur wujudku menjadi Kau
Kau datang perlahan-lahan
Lalu pergiku pelah-pelan

Yang diperlukan adalah iman yang membakar hati dengan api cinta. Secara majazi, dalam tradisi esoterisme islam, hubungan itu biasa dirumuskan ke dalam bentuk, ‘aku adalah Kau, dan Kau adalah aku, namun Kau adalah Kau, sedang aku tetaplah aku’.

Secara lebih syahdu lagi, Mansur Hallaj (309 H) menuturkannya demikian:

Ruh Mu dan ruh ku berkelindan
Bagai arak yang tergerus di air
Jika pada Mu sampai, padaku pun sampai
Maka, Engkau dan aku seabadi-abadinya bersama

“Tuhan di dalam sesuatu, tapi tidak seperti sesuatu dalam sesuatu yang lain, dan Dia di luar sesuatu, tapi tidak seperti sesuatu di luar sesuatu yang lain, maha suci Dia dari segala perumpamaan, dan tidak demikian selain Dia”. (Imam Ali as)

Namun, ketika relasi aku-Kau itu sedemikian purnanya, hubungan itu pun menjadi sirna karena si pecinta telah lebur dengan Kinasihnya (fana fi-llah). Keberadaan ‘aku’ telah musnah dibakar oleh cintaNya; “Cinta Ilahi adalah api yang tiada menyisakan segala sesuatu kecuali telah dibakarnya” (Imam Ali as),

…maka yang tersisa hanyalah Dia (Huwa), semantara aku (hamba) hanyallah kehampaan. Itu sebabnya, hubungan tersebut tak lagi dapat dirumuskan sebagai relasi antara dua hal, sebab membayangkan suatu hubungan adalah melukiskan adanya dua wujud. Sementara wujud yang hakiki hanyalah satu, selain Dia (Huwa) hanyalah wujud majazi yang sejatinya hampa (‘adam bi-dzat).

Jika segalanya adalah Kau, maka apakah jagat ini? Dan jika aku hanyalah ketiadaan, maka rintihan apakah ini? Segalanya adalah Kau, pun Kaulah segalanya Selain Kau, maka apakah ia? (Husein Khawarazmi)


Segalanya adalah Kekasih dan pecinta adalah tabir Yang hidup adalah Kekasih dan pecinta adalah yang mati (Jalaluddin Rumi)


Karenanya, para mistikus muslim sembari mengambil ilham dari nukilan sabda nabi saww yang berbunyi: “Syariat adalah sabda-sabdaku, tarekat adalah perbuatanku, dan hakekat adalah ihwalku…” menawarkan trilogi irfan sebagai wahana dalam menyelami pengalaman tauhidi; syariat, tarekat dan hakekat.



Ketiganya merupakan pancaran dari jiwa islam yang terjelmakan secara bergradasi. Jika syariat adalah syarat lazim yang harus dipenuhi oleh seorang pesuluk, maka untuk menyempurnakannya, pesuluk harus melewati telaga tarekat (jalan batin syariat) sehingga kemudian mampu mencapai maqam hekakat.

Suatu maqam (tingkat) di mana pesuluk telah sampai pada ‘liqaillah’, suatu pertemuan puncak antara hamba dengan sang Kinasihnya.Maka pada maqam inilah, sejatinya batin agama itu terletak. Ia merupakan tujuan dan noktah terluhur dari pengembaraan spritual seorang mukmin.


Sehingga derajad keberagamaan dan keimanan seorang hamba pun akan bisa dimizankan sampai sejauhmana kedekatan pengalaman religiusnya dengan peringkat puncak ini.
Meski demikian, bukan berarti spritualitas yang telah dirajut tersebut lantas tenggelam begitu saja dalam lautan cintaNya, dan sekonyong-konyong menjadi seorang petapa lalu mengasingkan diri dari keramaian umat.


Sejatinya, seorang pesuluk cinta yang hakiki senantiasa mengemban jiwa profetik. Pesuluk yang demikian itu, tidak akan menghentikan perjalanan sucinya sebatas kembara dalam asma dan sifat-sifatNya. Namun ia akan kembali menuju hiruk-pikuk umat, memandu mereka menuju jalan cinta, tapi tetap bersama dengan sang Ma’syuq (kekasih).

Karena baginya, realitas historis merupakan tajalli (jelmaan) cintaNya. Di manapun, kapanpun dan apapun yang ia lihat adalah wujud Kekasih sucinya.

“Tiada kulihat sesuatu, kecuali bahwa sebelum dan sesudahnya serta bersamanya kulihat Tuhan”(Imam Ali as)


Maka, betapapun capaian manusia pada batin agama terkadang hanya bisa kita sentuh pada hikayat-hikayat para sufi dan pesuluk cinta. Namun, sebagai kenyataan spritual, sudah selayaknya jika kenyataan semacam itu, setidaknya bisa kita refleksikan ulang dalam kesadaran religius kita. Karenanya, batin agama mesti dirunut hingga merujuk pada pengalaman monoteis terluhur semacam di atas.


Meraih hakekat agama tidak cukup hanya dengan mengikat sehimpun sistem doktrinal pada poros nalar. Tuhan sebagai tujuan sejati agama, bukan sekedar hipotesa dogmatis yang wajib diimani secara buta begitu saja.

Namun, Tuhan harus “dialami” dalam pengalaman tauhid yang berlangsung secara nyata dan bergejolak penuh kobar dalam kalbu seorang mukmin. Sebuah pengalaman religius yang bisa menganugerahkan makrifat hudhuri tentang keesaan Tuhan yang sejati.


Karenanya, akan terlampau parokial, jika keberagamaan yang kita rajut hanya mandeg sebatas pada formalitas standar fikih yang hanya tersimpul dalam dualitas surga-neraka. Keberagamaan itu kudu mampu menerjemahkan syariat dengan celupan cinta ilahi. Tanpa itu, agama hanya tersisa mandul dan tak akan ada bedanya dengan tesis filsafat yang kering atau bahkan sekedar tradisi leluhur yang masih bertahan.


“Ilahi…! Adakah sesiapa yang merasakan manisnya bercinta denganMu, lantas mencari-cari kekasih yang lain sebagai gantiMu…?” (Munajat Pecinta-Imam Sajjad As)

“Ilahi…!Sungguh merugi nasib seorang hamba yang tiada mendapatkan anugerah cintaMu!” (Doa Arafah-Imam Husein as) []

William Shakespeare


Tapi manusia…
Manusia yang angkuh
Berselimut dalam pakaian kekuasaan yang singkat
Bermasa bodoh akan keyakinannya sendiri
Keadaannya yang dungu
Seperti monyet yang marah
Memainkan tipuan-tipuan aneh di hadapan Tuhan
Sehingga membuat malaikat menangis
-William Shakespeare-

Riwayat Plato


biarkan dia yang asing
datang menyita duga
atau pergi sesisa hampa
hanya murid platokan
pahami isyarat pejalan
sanjakku hanya peristiwa lalu
yang dibasuh bumi
lantas dituang nyata
rima-rima serunai bambu
petikan parau sangsai
serumpunnya dahulu
bila kawan selagu
dengan nada ghaibnya
ingatlah aku yang dilupa
kawan lama
pengagum cinta
atau tetaplah asing tanpa ditanya

Sketsa Pudar


legam diri meredam dendam
mengusung keranda kekasih
laluaku dibakar jeritan malam
mengais nurani sisa moyangku
mungkin hanya manusia kelabu
ciptaan air dan api
pahami ujarku tentang daun dan secuil roti
tentang burung menara raja
pada silsilah rambut bayang kawan
ah...
biar tangisnya kutawakan
karna lukaku adalah cintanya...
meski kemarin dipujaku
takkan terpuji kini bagiku
aku hanya paduan tanah dan surga
pemilik syair tuan gembala
sejuta tahun menangis sesal
sekajap lalu membuang bekal
kusitir langit dengan ayatnya
kumaki waktu dengan takarnya
tak jua padam api membakar
tak pun pupus sanjak berpendar
hanya dosa dan sekian lagu dikenangku
selebihnya drama kemarin disekertas coretanku
sketsa pudar bayang pecinta
bergaris bidang setakhingga kecewa

Dua Kumayl


Ya Allah, aku bermohon pada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu
Dan dengan Kekuatan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu
Dan merunduk segala sesuatu
Dan merendah segala sesuatu
Dan dengan keagungan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu
Dan dengan kemuliaan-Mu yang tak tertahankan oleh segala sesuatu
Dan dengan kebesaran-Mu yang memenuhi segala sesuatu
Dan dengan kekuasaan-Mu yang mengatasi segala sesuatu
Dan dengan wajah-Mu yang kekal setelah fana segala sesuatu
Dan dengan asma-Mu yang memenuhi tonggak segala sesuatu
Dan dengan ilmu-Mu yang mencakup segala sesuatu
Dan dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala sesuatu
Wahai Nur, Wahai Yang Maha Suci
Wahai Yang Awal dari segala yang awal dan Wahai Yang Akhir dari segala yang akhir
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku penyebab hukum karma
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merusak nikmat
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merintangi doa
Ya Allah, ampinilah dosa-dosaku yang menurunkan bencana
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang memutuskan tali harapan
Ya Allah, ampunilah segala dosa yang telah kulakukan
Dan segala kesalahan yang telah kukerjakan
Ya Allah, aku datang menghampiri-Mu dengan berdzikir (kepada)-Mu
Kumohon pertolongan pada diri-Mu
Aku bermohon kepada-Mu dengan kemurahan-Mu agar Kau dekatkan daku ke haribaan-Mu
Sempatkan daku untuk bersyukur kepada-Mu
Bimbinglah daku untuk selalu mengingat-Mu
Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan penuh kerendahan, hina dan kekhusyukan
Agar Engkau maafkan dan sayangi daku
Dan jadikan daku rela dan puas akan pemberianmu
Dan dalam segala keadaan tunduk dan patuh (kepada-Mu)
Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu laksana permohonan orang-orang yang terdesak oleh kesulitannya
Yang menghampiri-Mu ketika terpojok urusannya
Yang besar dambaannya untuk meraih apa yang ada disisi-Mu
Ya Allah, Maha Besar kekuasaan-Mu
Maha Tinggi kedudukan-Mu
Selalu tersembunyi rencana-Mu
Selalu tampak kuasa-Mu
Selalu tegak kekuatan-Mu
Selalu berlaku kodrat-Mu
Tak mungkin lari dari kekuasaan-Mu
Ya Allah, tiada kudapat pengampun bagi dosa-doasku
Tiada penutup bagi kejelekan-kejelekanku
Dan tiada yang dapat menggantikan amalku yang jelek dengan kebaikan melainkan Engkau
Tiada Tuhan selain Engkau Maha Suci Engkau dengan segala puji-Mu
Telah aku aniaya diriku
Dan telah berani aku melanggar, karena kebodohanku
Tetapi kusandarkan diri pada ingatan dan karunia-Mu yang berkekalan atasku
Ya Allah, pelindungku
Betapa banyak kejelekanku yang Kau tutupi
Betapa banyak malapetaka yang telah kau hindarkan
Betapa banyak rintangan yang telah Ku singkirkan
Betapa banyak bencana yang telah Kau gagalkan
Betapa banyak pujian baik yang tak layak bagiku telah Kau sebarkan
Ya Allah, besar sudah bencanaku
Berlebihan sudah kejelekan keadaanku
Sedikit sekali amal-amalku
Berat benar belenggu (kemalasan)ku
Angan-angan panjang telah menahan manfaat dariku
Dunia telah memperdayaku dengan tipuannya
Dan jiwaku (telah terpedaya) oleh penghianatan serta kelalaian
Wahai Junjunganku, kumohon kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu
Janganlah Kau halangi doaku pada-Mu(oleh karena) kejelekan amal dan perangaiku
Jangan Kau ungkap dengan pantauan-Mu rahasiaku yang tersembunyi
Jangan Kau segerakan siksa atas perbuatanku dalam kesendirianku
dari jeleknya perbuatanku dan kejahatanku dan berkekalannya aku dalam dosa dan kebodohanku
dan banyaknya nafsu dan kelalaianku
Ya Allah, dengan kemuliaan-Mu, sayangilah aku dalam segala suasana
Dan kasihi aku dalam segala perkara
Illahi, Rabbi, siapa lagi bagiku selain Engaku yang kumohonAgar melepaskan deritaku dan memperhatikan urusankuIllahi, Pelindungku, akankah Kau tetapkan hukuman padaku kala kuikuti hawa nafsukuDan ketidakwaspadaanku terhadap tipuan musuhkuHingga kuterbujuk olhe(selera) nafsukuDan terlena dalam buaian birahikuLalu kulanggar sebagain peraturan-peraturan yang kau tetapkan bagikuDan kulanggar sebagian perintah-perintah-MuCukup sudah bagi-Mu dalih (dalam menjatuhkan hukuman) padaku atas semua kelakuanku ituDan tiada alasan bagiku (menolak) hukuman yang akan Kau jatuhkan padaku atas semua ulahku itu(demikian pula) atas hukum dan bencana yang harus menimpakukini aku datang menghadap kepada-Mu, ya Illahisetelah semua kecerobohan dan pelanggaranku atas dirikumemohon maaf, mengungkapkan penyesalan dengan hati luluhmerasa jera, mengharap ampunan menginsafi kesalahanmengakui kelalaian, menyadari kecerobohan menginsafi kesalahantiada kutemui tempat melarikan diri, dari (dosa-dosa) yang telah kulakukandan tiada tempat berlindung agar kuterlepas dari segala noda dan bebanmelainkan Kau kabulkan permohonan ampunankudan memasukkan daku ke dalam lautan kasih-MuYa Allah, terimalah alasan (pengakuan)ku iniDan kasihanilah beratnya kepedihankuDan bebaskanlah daku dari kekuatan belenggukuYa Rabbi, kasihanilah kelemahan tubuhku 3XKelembutan kulitku dan kerapuhan tulangkuWahai Yang mula-mula menciptakanku, menyebut dan mendidikkuMemperlakukanku dengan baik dan memberiku kehidupanBerikanlah aku karunia-Mu karena Engkau telah mendahuluiku dengan kebaikan-Mu kepadakuYa Illahi, Tuhanku, PemeliharakuApakah Engkau akan menyiksaku dengan api-Mu setelah aku mengesakan-MuSetelah hatiku tenggelam dalam makrifat-MuSetelah lidahku bergeatr menyebut-MuSetelah jiwaku terikat dengan cinta-MuSetelah segala ketulusan pengakuanku dan permohonanku seraya tunduk bersimpuh pada kekuasaan-Mu?Tidak, Engkau terlalu mulia untuk mencampakkan orang yang Engkau ayomiAtau menjauhkan orang yang Engkau dekatkanAtau menyisihkan orang yang Kau naungiAtau menjatuhkan pada bencana orang yang Engkau cukupi dan sayangiAduhai diriku, ya Tuhanku, Illahi, PelindungkuApakah Engkau akan melemparkan ke neraka wajah-wajah yang tunduk rebah karena kebesaran-Mu?Dan lidah-lidah yang dengan tulus mengucapkan keesaan-MuDan dengan pujian mensyukuri nikmat-Mu?Kalbu-kalbu yang dengan sepenuh hati mengakui ketuhanan-Mu?Hati nurani yang dipenuhi ilmu tentang Engkau sehingga bergetar ketakutan?Tubuh-tubuh yang telah biasa tunduk untuk mengabdi-Mu?Dan dengan merendah memohon ampunan-Mu?Tidak sedemikian itu dugaan (kami) pada-MuDan juga tidak demikian kami diberitahukan tentang kemuliaan-MuWahai Pemberi Karunia, Wahai Pemelihara 3XEngkau mengetahui kelemahanku dalam menanggung beban dunia serta (derita) akibatnyaSerta kesusahan-kesusahan yang menimpa penghuninyaPadahal semua bencana dan kesusahan itu singkat masanyaSebentar lalunya, pendek usianyaMaka apakah mungkin aku sanggup menanggung bencana akhiratDan siksaan-siksaan yang dahsyat di sana … ?Bencana yang panjang masanyaDan kekal posisinyaSerta tidak diringankan bagi penghuninyaSebab semuanya tidak terjadi kecuali karena murka, balasan dan amarah-MuInilah yang bumi dan langit pun tak sanggup memikulnyaWahai Tuhanku, bagaimana (mungkin) aku (menanggungnya)Padahal aku hamba-Mu yang lemah, rendah, hina, malang, dan papaYa Illahi, Rabbi, Tuhanku, PelindungkuUrusan apa lagi kiranya yang aku adukan kepada-MuMestikah aku menangis, menjeritApakah karena pedihnya azab dan beratnya siksa … ?Ataukah karena lamanya derita dan langgengnya bencana … ?Sekiranya Engkau siksa aku beserta musuh-musuh-MuDan Kau himpunkan aku bersama penghuni siksa-MuDan Engkau ceraikan aku dari para kekasih dan kecintaan-MuOh seandainyaku, Ya Illahi, Tuhanku, Pelindungku, Pemeliharaku(anggaplah) aku dapat bersabar menanggung siksa-Mumana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu?Dan (anggaplah) aku dapat bersabar menahan panas api-MuMana mungkin aku dapat bersabar melihat pada kemuliaan-Mu?Mana mungkin aku tinggal di neraka padahal harapanku hanyalah maaf-Mu?Demi kemuliaan-Mu, wahai tuanku, pelindungkuAku bersumpah dengan tulusSekiranya Engkau biarkan aku berbicara (di sana)Di tengah penghuninya aku akan menangis, seperti tangisan mereka yang menyimpan harapanAku akan menjerit, jeritan mereka yang memohon pertolonganAkuakan merintih, rintihan orangyang kehilangan (harapan)Sungguh aku akan menyeru-Mu dimanakah Engkau, wahai Pelindung kaum mukmininWahai tujuan harapan kaum arifinWahai Lindungan kaum yang memohon perlindungan 3XWahai Kekasih hamba-hamba(Mu) yang tulusWahai Tuhan seru sekalian alamAkankah Engkau perlakukan demikian … ? Maha Suci Engkau Ya Illahi, dengan segala puji-MuKala Kau dengar suara hamba muslim (di dalam neraka) yang terkurung karena keingkarannyaYang merasakan siksa karena kedurhakaannyaYang terperosok ke dalamnya karena dosa dan nistanya …?Sedankan ia merintih kepada-Mu dengan mendambakan rahmat-MuIa menyeru-Mu dengan lidah ahli tauhid-MuIa bertawassul kepada-Mu dengan ketuhanan-MuWahai Pelindungku, bagaimana mungkin ia kekal dalam siksa …?Padahal ia berharap pada kebaikan-Mu yang dahuluMana mungkin neraka menyakitinya …?Padahal ia mendambakan karunia dan kasih-MuMana mungkin jilatannya menghanguskannya …?Padahal Engkau dengar suaranya dan Engkau lihat posisinyaMana mungkin kobarannya mengurungnya …?Padahal Engkau mengetahui kelemahannyaMana mungkin ia jatuh bangun di dalamnya …?Padahal Engkau mengetahui ketulusannyaMana mungkin Malaikat Zabaniyyah menghempaskannya …?Padahal ia memanggil-Mu Ya Rabbi … Ya Allah …Mana mungkin ia mengharapkan karunia kebebasan daripadanyaLalu Engkau meninggalkannya di sana … ?Tidak, tidak demikian itu sangkaku kepada-Mu(juga) tidak pula menunjukkan kesohoran karunia-Mu(juga) tidak seperti itu dengan kebaikan serta karunia-Mu Engkau akan perlakukan orang-orang yang bertauhiddengan yakin aku berani berkatakalau bukan karena keputusan-Mu untuk menyiksa orang yang mengingkari-Mudan ketetapan dari-Mu agar mengekalkan di sana orang-orang yang melawan-Muniscaya Kau jadikan neraka seluruhnya sejuk dan damaitidak akan ada lagi di situ tempat tinggal dan menetap bagi siapa puntetapi Maha Kudus asma-MuEngkau telah bersumpah untuk memenuhi neraka dengan orang-orang kafir dari golongan jin dan manusia seluruhnyaEngkau akan mengekalkan di sana kaum durhakaEngkau dengan segala kemuliaan puji-Mu, Engkau telah berkataSetelah menyebut nikmat yang Engkau berikan“Akan samakah orang mukmin seperti orang durjana/fasiq. Sungguh tidak sama mereka itu.”Illahi, TuhankuAku memohon kepada-Mu dengan kodrat yang telah Engkau tentukanDengan Qadha yang telah Engkau tetapkan dan putuskanDan yang telah Engkau tentukan berlaku pada orang yang dikenaiLimpahkanlah (ampunan-Mu) padaku di malam ini, disaat iniPada semua nista yang pernah aku kerjakanPada semua dosa yang pernah aku lakukanPada semua kejelakan yang pernah aku rahasiakanPada semua kejahilan yang pernah aku kerjakanYang aku sembunyikan atau aku tampakkanYang aku tutupi atau aku tunjukkan(ampuni) semua keburukan yang telah Engkau suruhkan malaikat yang mulia mencatatnyamereka yang Engkau tugaskan untuk merekam segala yang ada padakumereka yang Engkau jadikan saksi-saksi bersama seluruh anggota badankudan Engkau sendiri pengawas di belakang merekadan saksi bagi apa yang tak terpantau oleh merekadengan rahmat-Mu sembunyikanlah (keburukan-keburukan itu)dengan karunia-Mu tutupilah itudan perbanyaklah bagianku pada setiap kebaikan yang Engkau turunkanatau setiap karunia yang Kau limpahkanatau setiap keberuntungan yang Kau sebarkanatau setiap rezeki yang Kau curahkanatau setiap dosa yang Kau ampunkanatau setiap kesalahan yang Kau sembunyikanWahai Tuhanku, wahai yang menciptakanku, wahai yang memeliharakuYa Illahi, Tuhanku, Pelindungku, Pemilik NyawakuWahai Zat Yang di Tangan-Nya ubun-ubunkuWahai Yang mengetahui kesengsaraan dan kemalangankuWahai Yang mengetahui kefakiran dan kepapaankuWahai Tuhanku, Wahai Yang menciptakanku, Wahai Yang memeliharakuAku memohon kepada-Mu demi kebenaran dan kesucian-MuDan demi keagungan sifat dan asma-MuJadikan waktu malam dan siangku dipenuhi dengan dzikir pada-MuSenantiasa mengabdi kepada-MuDiterima amal-amalku di sisi-MuiSehingga perbuatan dan ucapan-ucpanku seluruhnya menyatuDan kekekalan selalu keadaanku dalam berbakti kepada-MuWahai Tuanku, Wahai Zat yang kepada-Nya aku percayakan dirikuYang kepada-Nya aku adukan keadaankuWahai Tuhanku, Wahai Yang menciptakanku, Wahai Yang memeliharaku 3XKokohkan anggota badanku untuk berbakti kepada-MuTaguhkan tulang-tulangku untuk melaksanakan niatkuKaruniakan kepadaku kesungguhan agar takut kepada-MuSenantiasa untuk berbakti kepada-MuSehingga aku bergegas menuju-Mu bersama pendahuluDan berlari ke arah-Mu bersama orang-orang yang berpacuMerindukan dekat kepada-Mu bersama yang merindukan-MuJadikan daku dekat pada-Mu, dekatnya orang-orang yang ikhlasDan takut pada-Mu, takutnya orang-orang yang yakinDan berkumpul di hadirat-Mu bersama kaum mukmininYa Allah siapa saja bermaksud buruk kepadaku, tahanlah diaSiapa saja yang memperdayaku, perdayakanlah dia 3XJadikan aku hamba-Mu yang paling baik nasibnya di sisi-MuYang paling dekat kedudukannya dengan-MuYang paling istimewa tempatnya di dekat-MuSungguh semua ini tidak akan tercapai kecuali dengan karunia-MuLimpahkan kepadaku kemurahan-MuSayangi daku dengan kebaikan-MuJaga diriku dengan rahmat-MuGerakkan lidahku untuk selalu berdzikir pada-MuPenuhi hatiku supaya selalu mencintai-MuBerikan kepadaku dari yang terbaik dari ijabah-MuHapuskan bekas kejatuhankuAmpunilah ketergelincirankuSungguh Engkau telah wajibkan hamba-hamba-Mu beribadah kepada-MuDan Engkau perintahkan mereka untuk berdoa kepada-MuDan Engkau jaminkan kepada mereka ijabah-Mu(karena itu) kepada-Mu ya Rabbi kini kuhadapkan wajahkukepada-Mu ya Rabbi kupanjatkan tangankudemi kebesaran-Mu perkenankanlah doaku sampaikan daku pada cita-citakujangan putuskan harapanku akan karunia-Mulindungi aku dari kejahatan jin dan manusia musuh-musuhkuWahai Yang Maha Cepat ridha-NyaAmpunilah orang yang tidak memiliki apa pun kecuali hanya doaKarena sesungguhnya Engkau akan melakukan apa-apa yang Kau kehendakiWahai Yang Asma-Nya adalah penawar dan dzikir (pada-Nya) adalah obat dan ketaatan kepada-Nya adalah kekayaanSayangilah orang yang modalnya hanya harapan dan senjatanya hanya tangisanWahai Penabur Karunia, Wahai Penolak BencanaWahai Nur yang menerangi mereka yang terhempas dalam kegelapanWahai Yang Maha Tahu tanpa diberitahuKaruniailah Muhammad dan keluarga MuhammadLakukan padaku apa yang layak bagi-MuSemoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepada Rasul-Nya serta pada Imam yang mulia dari keluarganya dan sampaikan sebanyak-banyaknya salam kepada mereka.Dengan Rahmat-Mu Wahai Yang Maha Pengasih

Tuesday, September 9, 2008

Thursday, September 4, 2008

Muzik Ilahi Dalam Diri



Musik “Ilahiah”, ketika anda mengalaminya, maka ia akan membawa kepada kebahagiaan abadi. bagaimana seseorang yang telah “mendengarkan melodi “Ilahiah “ini dapat menceritakannya kepada orang yang belum mengalaminya ?Seseorang yang telah mengalaminya akan menjelaskan masalah ini dengan memakai analogi-analogi terbatas. Jika kita telah mendengar musik terindah yang ada di dunia, itu belumlah apa-apa dibanding musik yang disebut “suara” Tuhan.
Musik “Ilahiah sedang berdendang didalam diri kita sepanjang waktu. Kita tidak mendengarnya karena tidak ada seorang pun yang menunjukkannya kepada kita cara untuk mendengarkan “musik batin” tersebut.
Read more.....

Tuesday, September 2, 2008