Thursday, March 5, 2009

Panas: Dialog Syiah Di Makassar!


Wow! ini baru bertemu buku dgn ruas. Begitulah manusia. Tidak terkecuali kita, akan sering menghadapi tohmahan yang sama hasil "Pycho-war" sejak berabad lamanya..... Ikutilah polemik ini dan kita akan dapat menguasai 'permainan' ini!

*********
.... “Kami, Pak Jalal (JR), sangat sakit hati kalau keluarga kami dicela, apalagi dikatakan anak haram, dan dikafirkan. Tapi kami lebih sakit hati lagi kalau Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dikatakan anak haram, tidak ditau orangtuanya, dikatakan kafir”, Ungkap Ustadz dengan nada sedikit tinggi.

Lanjut Ustadz, Kalau tulisan JR yang berdasarkan keterangan yang lemah tersebut diterima, berarti kita mendustakan al Quran dan Hadits yang Shahih yang sangat banyak memuji para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam...

Tanggapan:
Mereka mempunyai pola berfikir yg aneh. ..namun itulah warna akidah mereka…bela ’sahabat’ mati2an tanpa peduli kebenaran. Ketika kritikan terhadap ’sahabat’ dibuat berdasarkan dalil dari sumber mereka…mereka melemahkan atau menakwilnya (bila tidak mampu melemahkannya) namun ketika keluarga Nabi dibela, spt mempertahankan Abu Thalib dan ibubapa Nabi saaw dari kekafiran…dgn segera mereka berkata…’ini disebut oleh hadis’. Dan mereka mendakwa mencintai Ahlul Bait Nabi saaw? Pesan2 nonverbal mereka lebih dipercayai ketimbang pesan verbal. Dan mereka berasa sakit hati bila ’sahabat2′ ini digugat? Apa mereka tidak terfikir bahawa Nabi saaw lebih sakit hati apabila keluarga baginda saaw dikafirkan? atau dibunuh di KARBALA'?

Polemik selanjutnya:

http://ressay.wordpress.com/2009/03/02/seputar-kesalahan-jalaluddin-rakhmat-terbongkar-dalam-dialog-syiah-di-makassar/
Mutiara Hikmah
Keluarlah dari lingkaran waktu. Dan masuklah kelingkaran cinta. (Jalaluddin Rumi)

Seminar Peranan Agama Dalam Dunia Kontemporari





Prof. Komaruddin Hidayat - Prof. Sayyid Yasser Khomeini - DR. Nasir Tamara

Prof. Sayyid Yasser Khomeini
Seluruh disiplin ilmu memiliki metodologinya masing-masing untuk memperoleh kajian dan pemahaman yang mendalam, tidak terkecuali agama. Kebanyakan orang mengartikan agama hanya sebagai sekumpulan perintah dan larangan, inilah yang menyempitkan makna agama sebagai ilmu fikih. Ada lagi yang memaknai agama dengan penggunaan akal atau rasional, inilah yang dimaksud dengan filsafat agama. Ada pula agama yang menggunakan metode irfan atau tasawuf untuk memahaminya...

Selanjutnya:
http://azerila.wordpress.com/2009/02/06/sedikit-catatan-dari-seminar-internasional-%e2%80%9creligion-in-contemporary-world%e2%80%9d/

Prof. Sayyid Yasser Khomeini

Merupakan kebahagiaan bagi saya berada di tengah-tengah bapak, ibu dan saudara sekalian, yang penuh dengan semangat dan kecintaan kepada Ahlul Bait. Salah satu kenikmatan dan karunia Allah kepada manusia adalah berwilayah dan kecintaan kepada Ahlul Bait. Dengan hal itulah, Insya Allah kita bisa meniru dan meneladani kehidupan mereka...

Karena itu Bani Umayyah mengubah taktiknya, dengan mengatakan, “Benar Ali lahir di Ka’bah, tapi dia bukan satu-satunya,” dibuat dalam sejarah sekitar 7 atau 8 nama lain yang juga lahir di Ka’bah. Mungkin Bani Umayyah memahami bahwa Ka’bah seperti sebuah klinik, yang ketika setiap orang ingin melahirkan lalu akan datang ke sana.

Selanjutnya:
http://azerila.wordpress.com/2009/02/06/peringatan-30-tahun-revolusi-islam/

Sumbangsih untuk Guruku!














Foto beliau ketika masih muda dan tanda tangannya
Meski dikenal sebagai orang yang humoris, namun peristiwa Asyura selalu membuat pipinya yang sudah keriput menjadi basah oleh air mata. Baginya, Asyura menggambarkan betapa kejamnya manusia terhadap manusia lain. Apalagi sebenarnya Husain tidak berbuat apa-apa, ia hanya tidak ingin berbaiat. Andaikata ia membaiat seorang pemimpin zalim (Yazid), berarti ia menyalahi risalah kakeknya, Rasulullah, dan mengakui tindakan zalim. “Sekarang ini kita harus hidup berbuat baik, dan mesti kritik bila ada penguasa berbuat zalim,” jelasnya.

Bahkan ironis dengan pensiunnya sekarang ini, sering ia kesulitan untuk membeli obat dan biaya rumah sakit. Pulang praktik dari Lampung, ia kembali ke Jakarta dengan uang yang hanya cukup untuk tiket. Meski begitu, uang pensiunannya yang hanya sekitar 620 ribu, setiap hari Senin, isterinya selalu menyediakan 10 kg beras untuk tukang sampah yang mempunyai anak banyak.

Setiap yang membaca karya beliau bisa disebut sebagai murid beliau, tidak terkecuali saya. Beberapa kali berbincang dengannya seperti berbicara dengan komputer dengan memory besar. Beliau hampir bisa menyebutkan setiap kisah dan sejarah dengan lengkap. Meski demikan, tema obrolannya tidak selalu tentang agama. Terakhir ke rumahnya, beliau menceritakan tentang sejarah kopi dan jenis-jenisnya. Genius!

Baca Selanjutnya:

http://azerila.wordpress.com/2009/01/25/o-hashem-berdakwah-di-tengah-kemiskinan/

p/s Kita semua menanti karya terakhir beliau tentang Aisyah RA...

Arbain: Sesungguhnya Umat Islam itu Bersaudara!





Peringatan Arbain 1430 H/2009M di Masjid At-Tin
http://www.treklens.com/gallery/Asia/Indonesia/photo164104.htm (Gambar Masjid At-Tin)

Ratusan bahkan mungkin ribuan masyarakat Islam memenuhi Masjid Agung At-Tin dalam peringatan Arbain (40 hari) Sayyidina Husain, Sabtu 21 Februari 2009. Masyarakat dari berbagai golongan dan kelompok, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Ahlul Bait serta beberapa pemuda yang mengenakan jaket majelis taklim tertentu bersama-sama memperingati Haul Agung Sayyidina Husain, yang sebenarnya jatuh pada tanggal 20 Shafar lalu.

Kecintaan kita kepada Imam Husain mudah-mudahan membuat Rasul cinta kepada kita. Orang yang mencinta seseorang yang dicintai Nabi, maka dia akan dicintai Nabi SAW. Insya Allah di akhirat kita bersama Rasulullah di surga. Oleh karena itulah, Imam Syafi’i RA berkata, “Wahai keluarga Rasul, cinta kepadamu adalah wajib sebagaimana diwajibkan Allah dalam Al-Quran.”

Kita memperingati ini bukan hanya karena Imam Husain adalah cucu Nabi tapi karena Imam Husain selalu berada di garis Islam. Sebelum keluar perang, Imam Husain berkata, “Sesungguhnya aku bangkit bukan karena kesombongan atau melakukan kerusakan, tapi dalam rangka melakukan perbaikkan dalam umat kakekku, Rasulullah.” Ini artinya telah terjadi penyelewengan dalam ajaran Islam.

Selanjutnya:
http://azerila.wordpress.com/2009/02/21/arbain-1430-h-contoh-persatuan-umat-islam/
Prof. DR. M. Quraish Shihab- Pakar Tafsir:
"Siapa yang tidak mengagungkan Imam Husain maka diragukan keimanannya."

Kita tidak dapat menjangkau seluruh makna arba’în. Kita tidak tahu persis mengapa angka 40 hari itu yang dipilih; bukan 30, bukan 20, bukan juga 100. Tapi yang jelas angka 40 disebut di dalam Al-Quran sebanyak empat kali. Nabi Musa AS tadinya dijanjikan untuk “bertemu” dengan Allah, tapi kemudian Allah menyempurnakannya: …Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam (QS. Al-A’râf [7] : 142). Seorang manusia oleh Al-Quran juga dinyatakan bahwa manusia mencapai kesempurnaannya. Hatta idzâ balagha asyuddahu wa balagha arba’în sannah (QS. Al-Ahqâf [46] : 15). Bani Israil pun yang dihukum Tuhan, disebutkan bahwa mereka dihukum Tuhan tersesat selama 40 tahun.

Hal kedua yang ingin saya garis bawahi adalah, Allah SWT memerintahkan kita untuk merenung. Berulang-ulang dalam Al-Quran, tidak kurang 200 kali, kata “merenung”, “mengingat” terulang di dalamnya. Banyak hal yang perlu direnungkan. Sejak dulu misalnya, Allah berpesan kepada Nabi Musa agar mengingatkan kaummya: Wa dzakkirhum bi ayyâmillâh. Ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah (QS. Ibrâhîm [14] : 5), maka kita dapat berkata, bahwa salah satu hari Allah adalah hari gugurnya Sayyidina Husain.

Seperti kita baca dalam Al-Quran: Barang siapa yang mengagungkan sya’âirillâh (syiar-syiar Allah) maka sesungguhnya itu adalah tanda ketakwaan dari hati (QS. Al-Hajj [22] : 32). Itu sebabnya kita merayakan maulid Nabi, itu sebabnya kita mengagungkan tokoh-tokoh. Itu sebabnya sebagaimana kita bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad....

Lihat selanjutnya:

http://azerila.wordpress.com/2009/02/17/makna-arbain-dan-kesyahidan-sayyidina-husain/

Ahl Bait

Oh.. Maula junjunganku
mungkinkah kugapai
derajat debu dan pasir
yang di atasnya
tapakmu kau ukir
Atau bebatuan
yang diatasnya
kau meloncat.
Atau bambu-bambu titian
yang diatasnya
kau melintas
Oh.. Maula junjunganku
maafkanlah aku
kalau harapan itu
kalau mohonan itu
tak bijak dan terlalu lancang
untuk si sahaya-durjana ini
Akhirnya bagiku...

kukan puas dan lega bernafas
kalau aku tak jadi DURI dalam jalanmu
Oleh: Hassan Abu Ammar

Tuesday, January 20, 2009

Derita al-Husain


Sahabat kenanglah derita berat
Yang kini menyesakkan ruang batinmu
Meremuk redam hancurkan mimpi
Meniti asa yang tak pasti

Keluh terdengar rintihan semakin menjadi
Seolah diri berat diuji
Menelan kelam peluh tak berperi
Lupa akan nikmat Ilahi

Kenanglah…Al Husain…
Derita sebagai tanda cinta
Ya Husain…Ya Husain…
Mengenangmu bangkitkan asa
Bahwa hidup adalah cinta suci
Kau persembahkan untuk Ilahi

Gemuruh dada menghentak gelisah mengisi
Kehilangan kawan sejati
Cintamu padam hatimu sunyi
Hilang semua harga diri

Sahabat masihkah batinmu meronta sepi
Setelah Al-Husain kau tangisi
Wajahmu muram merenung diri
Adakah cinta yang kau beri?

Kenanglah…Al Husain…
Derita sebagai tanda cinta
Ya Husain…Ya Husain…
Mengenangmu bangkitkan asa
Bahwa hidup adalah cinta suci
Kau persembahkan untuk Ilahi

Lirik oleh: Miftah Fauzi Rakhmat
Musik oleh: Muhammad Ghifar

Download Lagu KLIK DISINI
Sumber: Bloggers- Ressay

Wednesday, September 10, 2008

Batin Agama: Sisi Lain Yang Terlupakan


Key rafteh-i ze del keh tamanna konam tu ra Key budeh-i nahofteh keh payda konam tu ra
Bilakah pernah Engkau tinggalkan hati hingga kuharapkan Dikau Bilakah pernah adaMu tersembunyi hingga harusku temukan Dikau

Ghaybat na kardeh-i keh shavam thalab huzur Panhan na gashteh-i keh huvaida konam tu ra

Tiada menghilang Engkau hingga kucari Dikau Tiada terbenam Engkau hingga kutampakkan Dikau

Ba shad hezar jelveh borun amadi-o man Ba shad hezar dideh tamasha konam tu ra

Dengan selaksa citra terejawantahlah Dikau Dengan selaksa pirsa kupandanglah Dikau Bushtami

(Mistikus Muslim dari Persia)

Dengan setting masa sekitar 13 abad yang lalu, berlatarkan gurun pasir dan padang tandus, seorang musyafir tengah menempuh jarak ribuan kilometer dari Marv (sebuah kota kuno di barat daya Turkmenistan) menuju Madinah.

Sedemikian teruk dan jauhnya perjalanan itu, hingga tapak kaki sang musafir pun dipenuhi oleh kerak luka dan darah. Saat tiba di Madinah, segera Ia menemui Imam Baqir as, cicit Rasulullah saww yang amat dikenal sebagai seorang cendekia yang begitu arif di masanya.

Raut lusuh dan kaki penuh luka itu seketika dimengerti oleh Imam. Sehingga dengan tangannya sendiri, beliau bersihkan luka sang tamu itu dengan penuh pengasihan. “Wahai Imam para kaum Mukmin, adakah Engkau tahu bahwa jauhnya perjalanan yang telah kutempuh sekedar untuk mendapatkan jawaban dari soalan syar’i yang tengah melilitku dan hanya berbekal cinta aku korbankan segalanya demi untuk menemuimu?” Ungkap musafir itu dengan sepenuh rindunya.

Sementara Imam Baqir as, seraya tersenyum dan diiringi nada tanya berkata: “Bukankah agama kecuali cinta?”.

Kira-kira demikianlah kisah itu dinukilkan. “Bukankah agama kecuali cinta?”.

Buat saya, tutur irfani ini bukan sekedar ujaran perasaan sang Imam untuk membungakan hati tamunya. Tapi merupakan penegasan akan esensi terdalam hakekat agama per-se. Sebentuk rumusan esoteris yang melebur agama secara dzati dengan cinta, testimoni purna yang membalut citarasa humanis dengan derajad keilahian mahabbah. Imam Baqir as tidak hanya mengungkapkan rasa kasih sayangnya dengan mengobati luka sang tamu, namun laku penuh kasihnya itu, Beliau tampakkan sebagai jelmaan agama yang tengah berbalut dengan keluhuran cinta.

Pada agama cinta kumenghadap,
kemanapun karavannya pergi cinta adalah agama dan imanku
(Ibnu Arabi)

Ungkapan sang imam layak untuk mewakili agama dalam menyingkap sisi batinnya.

Kandungan teks-teks suci sebagai jelmaan konkret hakekat agama ternyata tidak hanya menghimpun seperangkat hukum syariat, tapi justru lebih banyak memuat proposisi makrifat, pesan-pesan moral, dan isyarat-isyarat esoteris yang begitu pekat bernuansakan ide-ide sufistik.

Teks-teks wahyu sedemikian luhurnya, sehingga mampu menyuguhkan wajah lain Islam yang lebih universal dan penuh damai.

“Tuhan adalah cahaya langit dan bumi”(Nur:35) “Dia bersama kalian, di manapun kalian berada” (Hadid:4) “Sesungguhnya Tuhanku begitu dekat dan maha penerima” (Hud:21) “katakanlah: jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu”(Ali-Imran:31).


“Ilahi! Jika aku menyambahMu hanya karena rasa takutku akan neraka, maka bakarlah aku dalam neraka! Dan jika karena mengharap surga aku menyembahmu, maka haramkan surgaMu untukku, dan jika karenaMu, aku menyembahMu, maka biarkan wajah indahMu terpirsa untukku” (Rabiah Adawiyah)Ketika Pecinta telah temukan jalan cinta Neraka dan surgapun tak kan lagi diingat (Jami).

Manusia dan Agama

Manusia bukan hanya bermatrakan materi, namun juga berdimensikan ruhani. Malahan, justru pada dimensi ruhani itulah, agama bisa menemukan relevansinya dengan wujud manusia. Mengingat, dari kedalaman diri manusia senantiasa terdengar teriakan kerinduan pada Wujud Mutlak, pada kesempurnaan sejati. Sebentuk hasrat yang begitu mendambakan untuk menggapai sesuatu yang ghaib di luar keterbatasan jasadanya. Dan niscaya, hanya agama sajalah yang bisa mengobati kerinduan jiwa semacam itu.

Dengarlah rintih serunai bambu
Mengadukan perpisahannya
Kerna terasing dari rumpun bambunya dulu
Sangsai nadaku lara-keluhkan manusia
demi keterceraian itu ‘kan kucabik-cabik sanubarinya
Hingga kubentangkan betapa lukanya rindu
Siapapun yang jauh dari asalnya
Pasti ‘kan kembali mencari masa pertemuan
(Jalaluddin Rumi)

Dimensi ruhani ini, selain dilengkapi dengan daya rasional (akal), dilengkapi pula dengan kekuatan kalbu (Qalb). Jika akal sebagai fakultas intelegensia, biasanya hanya puas dengan terbuktikannya dalil-dalil epistemik secara argumentatif. Namun, tidak demikian dengan kalbu. Kalbu senantiasa menuntut sesuatu hingga diluar batas-batas jangkauan wujud manusia.

Karenanya ia tak hanya cukup bangga dengan terurainya sebuah konsepsi ataupun tertegasnya suatu proposisi. Kalbu hanya akan merasa tenang ketika sesuatu yang dikehendakinya telah benar-benar hadir dalam wujudnya. Sesuatu itu mesti dapat dialami secara hudhuri (intuitif) dalam kesadaran eksistensial wujud manusia. Pasalnya, kalbu seorang mukmin senantiasa berhasrat untuk merentangkan bentang eksistensinya hingga menggapai Wujud mutlak (liqaillah).


Dengan begitu, andaikan sesuatu tersebut berupa makrifat (pengetahuan/’ilm), maka adanya sesuatu sebagai yang diketahui (ma’lum) akan menyatu secara manunggal dengan kalbu (‘alim) tanpa memerlukan adannya perantara.


Langit dan bumi tak mampu mengandungiKu, namun kalbu hambaku yang
mukmin mampu mengandungiKu” (hadits qudsi)

Iman dan Pengalaman Tauhidi

Dalam konteks keberagamaan yang lebih tersentuh, makrifat hudhuri tersebut biasa terungkapkan dalam pengalaman religius. Lewat pengalaman semacam inilah seorang mukmin baru benar-benar bisa merasakan bagaimana hakekat iman itu bisa tersingkap secara personal dan langsung dalam keutuhan wujud dirinya yang satu.

Namun, bukan berarti iman mesti dipahami sebagai upaya pelucutan rasionalitas dari pelataran kalbu. Hakekat iman sejatinya bukanlah sekedar meyakini sesuatu dengan bertaruhkan nasib atau keberuntungan, iman adalah penyerahan diri secara mutlak bersandarkan kekuatan makrifat yang telah berpilin dengan hangatnya cinta.

Makrifat yang dikehendaki oleh iman adalah ragam pengetahuan yang melampaui batas-batas nalar. Dan ini bukan berarti hendak menampik akal dari ranah iman. Tapi, justru karena akal tak lagi mampu melangkah pada peringkat yang hanya bisa dilalui oleh cinta. Itu sebabnya, makrifat yang dibutuhkan adalah makrifat yang tak berperantarakan akal. Makrifat itu hadir secara hudhuri, dan menyatu dengan kalbu sang mukmin.


Pada peringkatnya yang puncak, pengalaman itu tidak hanya menghadirkan kesadaran ilahi, tapi telah meleburkan keberadaan hamba (fana) dengan wujud Tuhannya, sehingga di sinilah kesempurnaan eksistensial manusia itu bisa diraih, dan dapat beranjak sampai pada peringkat insan kamil. Itu berarti, antara agama dan manusia harus mampu menubuhkan hubungan psikologis yang intim.

Keberadaan Tuhan sebagai tujuan puncak agama, semestinya tidak melulu dihayati pada hubungan aku-Dia, tapi harus dicerap sebagai relasi aku-Kau yang lebih unik, tanpa-perantara, terhadirkan secara manunggal, dan hanya bersenyawakan cinta.

Ke mana pun kaki di tapakkan, Di sanalah welasNya ditemu Ke mana pun
kepala dirundukkan, Di sanalah sejadah keindahanNya
(Imam Khomeyni)

Lantaran terlaluku membayangkan Kau Sekujur wujudku menjadi Kau
Kau datang perlahan-lahan
Lalu pergiku pelah-pelan

Yang diperlukan adalah iman yang membakar hati dengan api cinta. Secara majazi, dalam tradisi esoterisme islam, hubungan itu biasa dirumuskan ke dalam bentuk, ‘aku adalah Kau, dan Kau adalah aku, namun Kau adalah Kau, sedang aku tetaplah aku’.

Secara lebih syahdu lagi, Mansur Hallaj (309 H) menuturkannya demikian:

Ruh Mu dan ruh ku berkelindan
Bagai arak yang tergerus di air
Jika pada Mu sampai, padaku pun sampai
Maka, Engkau dan aku seabadi-abadinya bersama

“Tuhan di dalam sesuatu, tapi tidak seperti sesuatu dalam sesuatu yang lain, dan Dia di luar sesuatu, tapi tidak seperti sesuatu di luar sesuatu yang lain, maha suci Dia dari segala perumpamaan, dan tidak demikian selain Dia”. (Imam Ali as)

Namun, ketika relasi aku-Kau itu sedemikian purnanya, hubungan itu pun menjadi sirna karena si pecinta telah lebur dengan Kinasihnya (fana fi-llah). Keberadaan ‘aku’ telah musnah dibakar oleh cintaNya; “Cinta Ilahi adalah api yang tiada menyisakan segala sesuatu kecuali telah dibakarnya” (Imam Ali as),

…maka yang tersisa hanyalah Dia (Huwa), semantara aku (hamba) hanyallah kehampaan. Itu sebabnya, hubungan tersebut tak lagi dapat dirumuskan sebagai relasi antara dua hal, sebab membayangkan suatu hubungan adalah melukiskan adanya dua wujud. Sementara wujud yang hakiki hanyalah satu, selain Dia (Huwa) hanyalah wujud majazi yang sejatinya hampa (‘adam bi-dzat).

Jika segalanya adalah Kau, maka apakah jagat ini? Dan jika aku hanyalah ketiadaan, maka rintihan apakah ini? Segalanya adalah Kau, pun Kaulah segalanya Selain Kau, maka apakah ia? (Husein Khawarazmi)


Segalanya adalah Kekasih dan pecinta adalah tabir Yang hidup adalah Kekasih dan pecinta adalah yang mati (Jalaluddin Rumi)


Karenanya, para mistikus muslim sembari mengambil ilham dari nukilan sabda nabi saww yang berbunyi: “Syariat adalah sabda-sabdaku, tarekat adalah perbuatanku, dan hakekat adalah ihwalku…” menawarkan trilogi irfan sebagai wahana dalam menyelami pengalaman tauhidi; syariat, tarekat dan hakekat.



Ketiganya merupakan pancaran dari jiwa islam yang terjelmakan secara bergradasi. Jika syariat adalah syarat lazim yang harus dipenuhi oleh seorang pesuluk, maka untuk menyempurnakannya, pesuluk harus melewati telaga tarekat (jalan batin syariat) sehingga kemudian mampu mencapai maqam hekakat.

Suatu maqam (tingkat) di mana pesuluk telah sampai pada ‘liqaillah’, suatu pertemuan puncak antara hamba dengan sang Kinasihnya.Maka pada maqam inilah, sejatinya batin agama itu terletak. Ia merupakan tujuan dan noktah terluhur dari pengembaraan spritual seorang mukmin.


Sehingga derajad keberagamaan dan keimanan seorang hamba pun akan bisa dimizankan sampai sejauhmana kedekatan pengalaman religiusnya dengan peringkat puncak ini.
Meski demikian, bukan berarti spritualitas yang telah dirajut tersebut lantas tenggelam begitu saja dalam lautan cintaNya, dan sekonyong-konyong menjadi seorang petapa lalu mengasingkan diri dari keramaian umat.


Sejatinya, seorang pesuluk cinta yang hakiki senantiasa mengemban jiwa profetik. Pesuluk yang demikian itu, tidak akan menghentikan perjalanan sucinya sebatas kembara dalam asma dan sifat-sifatNya. Namun ia akan kembali menuju hiruk-pikuk umat, memandu mereka menuju jalan cinta, tapi tetap bersama dengan sang Ma’syuq (kekasih).

Karena baginya, realitas historis merupakan tajalli (jelmaan) cintaNya. Di manapun, kapanpun dan apapun yang ia lihat adalah wujud Kekasih sucinya.

“Tiada kulihat sesuatu, kecuali bahwa sebelum dan sesudahnya serta bersamanya kulihat Tuhan”(Imam Ali as)


Maka, betapapun capaian manusia pada batin agama terkadang hanya bisa kita sentuh pada hikayat-hikayat para sufi dan pesuluk cinta. Namun, sebagai kenyataan spritual, sudah selayaknya jika kenyataan semacam itu, setidaknya bisa kita refleksikan ulang dalam kesadaran religius kita. Karenanya, batin agama mesti dirunut hingga merujuk pada pengalaman monoteis terluhur semacam di atas.


Meraih hakekat agama tidak cukup hanya dengan mengikat sehimpun sistem doktrinal pada poros nalar. Tuhan sebagai tujuan sejati agama, bukan sekedar hipotesa dogmatis yang wajib diimani secara buta begitu saja.

Namun, Tuhan harus “dialami” dalam pengalaman tauhid yang berlangsung secara nyata dan bergejolak penuh kobar dalam kalbu seorang mukmin. Sebuah pengalaman religius yang bisa menganugerahkan makrifat hudhuri tentang keesaan Tuhan yang sejati.


Karenanya, akan terlampau parokial, jika keberagamaan yang kita rajut hanya mandeg sebatas pada formalitas standar fikih yang hanya tersimpul dalam dualitas surga-neraka. Keberagamaan itu kudu mampu menerjemahkan syariat dengan celupan cinta ilahi. Tanpa itu, agama hanya tersisa mandul dan tak akan ada bedanya dengan tesis filsafat yang kering atau bahkan sekedar tradisi leluhur yang masih bertahan.


“Ilahi…! Adakah sesiapa yang merasakan manisnya bercinta denganMu, lantas mencari-cari kekasih yang lain sebagai gantiMu…?” (Munajat Pecinta-Imam Sajjad As)

“Ilahi…!Sungguh merugi nasib seorang hamba yang tiada mendapatkan anugerah cintaMu!” (Doa Arafah-Imam Husein as) []