Thursday, March 5, 2009

Sumbangsih untuk Guruku!














Foto beliau ketika masih muda dan tanda tangannya
Meski dikenal sebagai orang yang humoris, namun peristiwa Asyura selalu membuat pipinya yang sudah keriput menjadi basah oleh air mata. Baginya, Asyura menggambarkan betapa kejamnya manusia terhadap manusia lain. Apalagi sebenarnya Husain tidak berbuat apa-apa, ia hanya tidak ingin berbaiat. Andaikata ia membaiat seorang pemimpin zalim (Yazid), berarti ia menyalahi risalah kakeknya, Rasulullah, dan mengakui tindakan zalim. “Sekarang ini kita harus hidup berbuat baik, dan mesti kritik bila ada penguasa berbuat zalim,” jelasnya.

Bahkan ironis dengan pensiunnya sekarang ini, sering ia kesulitan untuk membeli obat dan biaya rumah sakit. Pulang praktik dari Lampung, ia kembali ke Jakarta dengan uang yang hanya cukup untuk tiket. Meski begitu, uang pensiunannya yang hanya sekitar 620 ribu, setiap hari Senin, isterinya selalu menyediakan 10 kg beras untuk tukang sampah yang mempunyai anak banyak.

Setiap yang membaca karya beliau bisa disebut sebagai murid beliau, tidak terkecuali saya. Beberapa kali berbincang dengannya seperti berbicara dengan komputer dengan memory besar. Beliau hampir bisa menyebutkan setiap kisah dan sejarah dengan lengkap. Meski demikan, tema obrolannya tidak selalu tentang agama. Terakhir ke rumahnya, beliau menceritakan tentang sejarah kopi dan jenis-jenisnya. Genius!

Baca Selanjutnya:

http://azerila.wordpress.com/2009/01/25/o-hashem-berdakwah-di-tengah-kemiskinan/

p/s Kita semua menanti karya terakhir beliau tentang Aisyah RA...

0 comments: