
Key rafteh-i ze del keh tamanna konam tu ra Key budeh-i nahofteh keh payda konam tu ra
Bilakah pernah Engkau tinggalkan hati hingga kuharapkan Dikau Bilakah pernah adaMu tersembunyi hingga harusku temukan Dikau
Ghaybat na kardeh-i keh shavam thalab huzur Panhan na gashteh-i keh huvaida konam tu ra
Tiada menghilang Engkau hingga kucari Dikau Tiada terbenam Engkau hingga kutampakkan Dikau
Ba shad hezar jelveh borun amadi-o man Ba shad hezar dideh tamasha konam tu ra
Dengan selaksa citra terejawantahlah Dikau Dengan selaksa pirsa kupandanglah Dikau Bushtami
(Mistikus Muslim dari Persia)
Dengan setting masa sekitar 13 abad yang lalu, berlatarkan gurun pasir dan padang tandus, seorang musyafir tengah menempuh jarak ribuan kilometer dari Marv (sebuah kota kuno di barat daya Turkmenistan) menuju Madinah.
Sedemikian teruk dan jauhnya perjalanan itu, hingga tapak kaki sang musafir pun dipenuhi oleh kerak luka dan darah. Saat tiba di Madinah, segera Ia menemui Imam Baqir as, cicit Rasulullah saww yang amat dikenal sebagai seorang cendekia yang begitu arif di masanya.
Raut lusuh dan kaki penuh luka itu seketika dimengerti oleh Imam. Sehingga dengan tangannya sendiri, beliau bersihkan luka sang tamu itu dengan penuh pengasihan. “Wahai Imam para kaum Mukmin, adakah Engkau tahu bahwa jauhnya perjalanan yang telah kutempuh sekedar untuk mendapatkan jawaban dari soalan syar’i yang tengah melilitku dan hanya berbekal cinta aku korbankan segalanya demi untuk menemuimu?” Ungkap musafir itu dengan sepenuh rindunya.
Sementara Imam Baqir as, seraya tersenyum dan diiringi nada tanya berkata: “Bukankah agama kecuali cinta?”.
Kira-kira demikianlah kisah itu dinukilkan. “Bukankah agama kecuali cinta?”.
Buat saya, tutur irfani ini bukan sekedar ujaran perasaan sang Imam untuk membungakan hati tamunya. Tapi merupakan penegasan akan esensi terdalam hakekat agama per-se. Sebentuk rumusan esoteris yang melebur agama secara dzati dengan cinta, testimoni purna yang membalut citarasa humanis dengan derajad keilahian mahabbah. Imam Baqir as tidak hanya mengungkapkan rasa kasih sayangnya dengan mengobati luka sang tamu, namun laku penuh kasihnya itu, Beliau tampakkan sebagai jelmaan agama yang tengah berbalut dengan keluhuran cinta.
Pada agama cinta kumenghadap,
kemanapun karavannya pergi cinta adalah agama dan imanku
(Ibnu Arabi)
Ungkapan sang imam layak untuk mewakili agama dalam menyingkap sisi batinnya.
Kandungan teks-teks suci sebagai jelmaan konkret hakekat agama ternyata tidak hanya menghimpun seperangkat hukum syariat, tapi justru lebih banyak memuat proposisi makrifat, pesan-pesan moral, dan isyarat-isyarat esoteris yang begitu pekat bernuansakan ide-ide sufistik.
Teks-teks wahyu sedemikian luhurnya, sehingga mampu menyuguhkan wajah lain Islam yang lebih universal dan penuh damai.
“Tuhan adalah cahaya langit dan bumi”(Nur:35) “Dia bersama kalian, di manapun kalian berada” (Hadid:4) “Sesungguhnya Tuhanku begitu dekat dan maha penerima” (Hud:21) “katakanlah: jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu”(Ali-Imran:31).
“Ilahi! Jika aku menyambahMu hanya karena rasa takutku akan neraka, maka bakarlah aku dalam neraka! Dan jika karena mengharap surga aku menyembahmu, maka haramkan surgaMu untukku, dan jika karenaMu, aku menyembahMu, maka biarkan wajah indahMu terpirsa untukku” (Rabiah Adawiyah)Ketika Pecinta telah temukan jalan cinta Neraka dan surgapun tak kan lagi diingat (Jami).
Manusia dan Agama
Manusia bukan hanya bermatrakan materi, namun juga berdimensikan ruhani. Malahan, justru pada dimensi ruhani itulah, agama bisa menemukan relevansinya dengan wujud manusia. Mengingat, dari kedalaman diri manusia senantiasa terdengar teriakan kerinduan pada Wujud Mutlak, pada kesempurnaan sejati. Sebentuk hasrat yang begitu mendambakan untuk menggapai sesuatu yang ghaib di luar keterbatasan jasadanya. Dan niscaya, hanya agama sajalah yang bisa mengobati kerinduan jiwa semacam itu.
Dengarlah rintih serunai bambu
Mengadukan perpisahannya
Kerna terasing dari rumpun bambunya dulu
Sangsai nadaku lara-keluhkan manusia
demi keterceraian itu ‘kan kucabik-cabik sanubarinya
Hingga kubentangkan betapa lukanya rindu
Siapapun yang jauh dari asalnya
Pasti ‘kan kembali mencari masa pertemuan
(Jalaluddin Rumi)
Dimensi ruhani ini, selain dilengkapi dengan daya rasional (akal), dilengkapi pula dengan kekuatan kalbu (Qalb). Jika akal sebagai fakultas intelegensia, biasanya hanya puas dengan terbuktikannya dalil-dalil epistemik secara argumentatif. Namun, tidak demikian dengan kalbu. Kalbu senantiasa menuntut sesuatu hingga diluar batas-batas jangkauan wujud manusia.
Karenanya ia tak hanya cukup bangga dengan terurainya sebuah konsepsi ataupun tertegasnya suatu proposisi. Kalbu hanya akan merasa tenang ketika sesuatu yang dikehendakinya telah benar-benar hadir dalam wujudnya. Sesuatu itu mesti dapat dialami secara hudhuri (intuitif) dalam kesadaran eksistensial wujud manusia. Pasalnya, kalbu seorang mukmin senantiasa berhasrat untuk merentangkan bentang eksistensinya hingga menggapai Wujud mutlak (liqaillah).
Dengan begitu, andaikan sesuatu tersebut berupa makrifat (pengetahuan/’ilm), maka adanya sesuatu sebagai yang diketahui (ma’lum) akan menyatu secara manunggal dengan kalbu (‘alim) tanpa memerlukan adannya perantara.
Langit dan bumi tak mampu mengandungiKu, namun kalbu hambaku yang
mukmin mampu mengandungiKu” (hadits qudsi)
Iman dan Pengalaman Tauhidi
Dalam konteks keberagamaan yang lebih tersentuh, makrifat hudhuri tersebut biasa terungkapkan dalam pengalaman religius. Lewat pengalaman semacam inilah seorang mukmin baru benar-benar bisa merasakan bagaimana hakekat iman itu bisa tersingkap secara personal dan langsung dalam keutuhan wujud dirinya yang satu.
Namun, bukan berarti iman mesti dipahami sebagai upaya pelucutan rasionalitas dari pelataran kalbu. Hakekat iman sejatinya bukanlah sekedar meyakini sesuatu dengan bertaruhkan nasib atau keberuntungan, iman adalah penyerahan diri secara mutlak bersandarkan kekuatan makrifat yang telah berpilin dengan hangatnya cinta.
Makrifat yang dikehendaki oleh iman adalah ragam pengetahuan yang melampaui batas-batas nalar. Dan ini bukan berarti hendak menampik akal dari ranah iman. Tapi, justru karena akal tak lagi mampu melangkah pada peringkat yang hanya bisa dilalui oleh cinta. Itu sebabnya, makrifat yang dibutuhkan adalah makrifat yang tak berperantarakan akal. Makrifat itu hadir secara hudhuri, dan menyatu dengan kalbu sang mukmin.
Pada peringkatnya yang puncak, pengalaman itu tidak hanya menghadirkan kesadaran ilahi, tapi telah meleburkan keberadaan hamba (fana) dengan wujud Tuhannya, sehingga di sinilah kesempurnaan eksistensial manusia itu bisa diraih, dan dapat beranjak sampai pada peringkat insan kamil. Itu berarti, antara agama dan manusia harus mampu menubuhkan hubungan psikologis yang intim.
Keberadaan Tuhan sebagai tujuan puncak agama, semestinya tidak melulu dihayati pada hubungan aku-Dia, tapi harus dicerap sebagai relasi aku-Kau yang lebih unik, tanpa-perantara, terhadirkan secara manunggal, dan hanya bersenyawakan cinta.
Ke mana pun kaki di tapakkan, Di sanalah welasNya ditemu Ke mana pun
kepala dirundukkan, Di sanalah sejadah keindahanNya
(Imam Khomeyni)
Lantaran terlaluku membayangkan Kau Sekujur wujudku menjadi Kau
Kau datang perlahan-lahan
Lalu pergiku pelah-pelan
Yang diperlukan adalah iman yang membakar hati dengan api cinta. Secara majazi, dalam tradisi esoterisme islam, hubungan itu biasa dirumuskan ke dalam bentuk, ‘aku adalah Kau, dan Kau adalah aku, namun Kau adalah Kau, sedang aku tetaplah aku’.
Secara lebih syahdu lagi, Mansur Hallaj (309 H) menuturkannya demikian:
Ruh Mu dan ruh ku berkelindan
Bagai arak yang tergerus di air
Jika pada Mu sampai, padaku pun sampai
Maka, Engkau dan aku seabadi-abadinya bersama
“Tuhan di dalam sesuatu, tapi tidak seperti sesuatu dalam sesuatu yang lain, dan Dia di luar sesuatu, tapi tidak seperti sesuatu di luar sesuatu yang lain, maha suci Dia dari segala perumpamaan, dan tidak demikian selain Dia”. (Imam Ali as)
Namun, ketika relasi aku-Kau itu sedemikian purnanya, hubungan itu pun menjadi sirna karena si pecinta telah lebur dengan Kinasihnya (fana fi-llah). Keberadaan ‘aku’ telah musnah dibakar oleh cintaNya; “Cinta Ilahi adalah api yang tiada menyisakan segala sesuatu kecuali telah dibakarnya” (Imam Ali as),
…maka yang tersisa hanyalah Dia (Huwa), semantara aku (hamba) hanyallah kehampaan. Itu sebabnya, hubungan tersebut tak lagi dapat dirumuskan sebagai relasi antara dua hal, sebab membayangkan suatu hubungan adalah melukiskan adanya dua wujud. Sementara wujud yang hakiki hanyalah satu, selain Dia (Huwa) hanyalah wujud majazi yang sejatinya hampa (‘adam bi-dzat).
Jika segalanya adalah Kau, maka apakah jagat ini? Dan jika aku hanyalah ketiadaan, maka rintihan apakah ini? Segalanya adalah Kau, pun Kaulah segalanya Selain Kau, maka apakah ia? (Husein Khawarazmi)
Segalanya adalah Kekasih dan pecinta adalah tabir Yang hidup adalah Kekasih dan pecinta adalah yang mati (Jalaluddin Rumi)
Karenanya, para mistikus muslim sembari mengambil ilham dari nukilan sabda nabi saww yang berbunyi: “Syariat adalah sabda-sabdaku, tarekat adalah perbuatanku, dan hakekat adalah ihwalku…” menawarkan trilogi irfan sebagai wahana dalam menyelami pengalaman tauhidi; syariat, tarekat dan hakekat.
Ketiganya merupakan pancaran dari jiwa islam yang terjelmakan secara bergradasi. Jika syariat adalah syarat lazim yang harus dipenuhi oleh seorang pesuluk, maka untuk menyempurnakannya, pesuluk harus melewati telaga tarekat (jalan batin syariat) sehingga kemudian mampu mencapai maqam hekakat.
Suatu maqam (tingkat) di mana pesuluk telah sampai pada ‘liqaillah’, suatu pertemuan puncak antara hamba dengan sang Kinasihnya.Maka pada maqam inilah, sejatinya batin agama itu terletak. Ia merupakan tujuan dan noktah terluhur dari pengembaraan spritual seorang mukmin.
Sehingga derajad keberagamaan dan keimanan seorang hamba pun akan bisa dimizankan sampai sejauhmana kedekatan pengalaman religiusnya dengan peringkat puncak ini.
Meski demikian, bukan berarti spritualitas yang telah dirajut tersebut lantas tenggelam begitu saja dalam lautan cintaNya, dan sekonyong-konyong menjadi seorang petapa lalu mengasingkan diri dari keramaian umat.
Sejatinya, seorang pesuluk cinta yang hakiki senantiasa mengemban jiwa profetik. Pesuluk yang demikian itu, tidak akan menghentikan perjalanan sucinya sebatas kembara dalam asma dan sifat-sifatNya. Namun ia akan kembali menuju hiruk-pikuk umat, memandu mereka menuju jalan cinta, tapi tetap bersama dengan sang Ma’syuq (kekasih).
Karena baginya, realitas historis merupakan tajalli (jelmaan) cintaNya. Di manapun, kapanpun dan apapun yang ia lihat adalah wujud Kekasih sucinya.
“Tiada kulihat sesuatu, kecuali bahwa sebelum dan sesudahnya serta bersamanya kulihat Tuhan”(Imam Ali as)
Maka, betapapun capaian manusia pada batin agama terkadang hanya bisa kita sentuh pada hikayat-hikayat para sufi dan pesuluk cinta. Namun, sebagai kenyataan spritual, sudah selayaknya jika kenyataan semacam itu, setidaknya bisa kita refleksikan ulang dalam kesadaran religius kita. Karenanya, batin agama mesti dirunut hingga merujuk pada pengalaman monoteis terluhur semacam di atas.
Meraih hakekat agama tidak cukup hanya dengan mengikat sehimpun sistem doktrinal pada poros nalar. Tuhan sebagai tujuan sejati agama, bukan sekedar hipotesa dogmatis yang wajib diimani secara buta begitu saja.
Namun, Tuhan harus “dialami” dalam pengalaman tauhid yang berlangsung secara nyata dan bergejolak penuh kobar dalam kalbu seorang mukmin. Sebuah pengalaman religius yang bisa menganugerahkan makrifat hudhuri tentang keesaan Tuhan yang sejati.
Karenanya, akan terlampau parokial, jika keberagamaan yang kita rajut hanya mandeg sebatas pada formalitas standar fikih yang hanya tersimpul dalam dualitas surga-neraka. Keberagamaan itu kudu mampu menerjemahkan syariat dengan celupan cinta ilahi. Tanpa itu, agama hanya tersisa mandul dan tak akan ada bedanya dengan tesis filsafat yang kering atau bahkan sekedar tradisi leluhur yang masih bertahan.
“Ilahi…! Adakah sesiapa yang merasakan manisnya bercinta denganMu, lantas mencari-cari kekasih yang lain sebagai gantiMu…?” (Munajat Pecinta-Imam Sajjad As)
“Ilahi…!Sungguh merugi nasib seorang hamba yang tiada mendapatkan anugerah cintaMu!” (Doa Arafah-Imam Husein as) []





